Tibet Ingin Merdeka
Dharamsala, Minggu - Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, Minggu
(6/4) di Dharamsala, India, mengatakan, demonstrasi antipemerintah
di Tibet merupakan ”letupan dari derita fisik dan batin yang
lama menekan”. Protes itu membuktikan sebagian besar orang
Tibet ingin merdeka dari pemerintahan China.
Dalai Lama juga mengatakan, protes-protes di Tibet dan provinsi-provinsi
di sekitarnya telah membantah sendiri ”propaganda” China
mengenai kerusuhan itu. Dalai Lama menambahkan, situasi tak lagi
bisa ”diabaikan”.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan dari tempat pengasingannya,
Dalai Lama mendesak warga Tibet untuk menahan diri dan meminta mereka
tidak mengganggu acara-acara menjelang Olimpiade.
”Protes-protes baru-baru ini di seluruh Tibet tidak hanya
menyangkal, tetapi juga menghancurkan propaganda Republik Rakyat
China,” kata Dalai Lama. Pernyataan ini merujuk pada kampanye
China yang menekankan bahwa kerusuhan di Tibet hanya akibat ulah
”kaum reaksioner” yang jumlahnya sedikit. Kampanye China
juga menyebutkan bahwa mayoritas warga Tibet menikmati kehidupan
yang makmur.
Menurut Dalai Lama, hal ini tidak benar. ”Protes-protes itu
juga telah dengan sendirinya menyampaikan kepada dunia bahwa isu
Tibet tidak lagi bisa diabaikan,” kata Dalai Lama yang kembali
mengatakan bahwa dia bukanlah dalang kerusuhan, sebagaimana diutarakan
China dalam nada sarkasme.
Gagal
China sejauh ini mencoba melakukan indoktrinasi berupa pendidikan
memperdalam patriotisme. Indoktrinasi ini bertujuan meningkatkan
loyalitas etnis Tibet pada Beijing. Namun, dikatakan, kampanye seperti
itu hanya akan berakhir dengan kegagalan. Bahkan, kampanye untuk
meningkatkan rasa patriotisme itu akan memukul balik, lambat atau
cepat.
Kampanye tersebut hanya memperdalam kebencian pada Beijing serta
memecah persatuan negara. ”Jujur saja, pendidikan patriotisme
tak berarti apa-apa kecuali cuci otak,” kata Chukora Tsering
Agloe, seorang peneliti dari Tibetan Centre for Human Rights and
Democracy, sebuah organisasi yang bermarkas di India.
Harian milik Partai Komunis, Tibet Daily, Sabtu (5/4), memberitakan
bahwa pendidikan patriotisme akan digencarkan. ”Pendidikan
kembali kepada para biksu muda akan dilakukan tentang sistem hukum
sehingga mereka bisa menjadi patriotis yang mencintai agama dan
memiliki disiplin serta menghargai hukum”, demikian harian
tersebut.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, China ingin mencuci otak warga
Tibet. Misalnya dengan meminta warga untuk tidak mengultuskan Dalai
Lama, dan sebaliknya mereka diminta ”menyembah” Partai
Komunis.
”Jika para biksu menolak hal tersebut, mereka akan dihukum
berupa pemecatan mereka dari wihara-wihara, ditahan, dan disiksa,”
kata Tsering Agloe.
Dia memberi contoh yang menimpa 14 biksuni, yang dihukum penjara
karena dianggap tidak loyal kepada negara, hanya karena menganut
Buddha dan menyembah Dalai Lama.
Sumber Kompas
(Gudang Rental - pusat sewa komputer, sewa computer, sewa pc, rental
komputer, sewa notebook, sewa laptop, rental laptop, rental notebook,
sewa tv plasma, sewa proyektor, sewa projector, dll) |